Rahasia sukses Piala Dunia Prancis simpel Tidak boleh membuat kekeliruan

Rahasia sukses Piala Dunia Prancis simpel Tidak boleh membuat kekeliruan

Ini bukanlah permainan yang hendak mereka ingat, atau yang hendak dikenang oleh beberapa orang. Prancis-Maroko di stadion Al-Bayt pada Rabu malam tidak capai ketinggian dan sinetron yang diharap beberapa orang, walau situasi cantik yang dibuat oleh beberapa fans dalam warna merah dan hijau.

Itu melipur, tentu, tetapi hanya itu. Beberapa pemain Prancis tidak peduli; itu ialah permainan yang perlu dimenangi, bagaimana juga triknya. Itu ialah semi-final dari kompetisi besar, dan mereka mengetahui bagaimana melawannya. Mereka sudah memenangi enam laga paling akhir yang mereka permainkan (1998, 2000, 2006, 2016, 2018, 2022) di Piala Dunia atau Euro. Pada intinya, saat Prancis ada di empat besar, mereka selalu maju ke final.

Untuk ke-4 kalinya dalam tujuh Piala Dunia paling akhir, mereka akan berkompetisi merebutkan hadiah khusus. Itu beberapa perolehan tertentu. Mereka mempunyai peluang hebat untuk kembali lagi ke belakang juga.

Sama seperti yang diperlihatkan penjaga gawang Hugo Lloris, teamnya “menanggung derita” untuk sampai ke situ. Ini ialah sisi dari DNA mereka. Berikut yang mereka kerjakan. Mereka mengontrol permainan, yang memiliki arti terkadang mereka ada di bawah penekanan, tapi mereka selalu mendapati langkah untuk menang. Mereka tidak tiup team, mereka tidak fantastis, mereka tidak seksi atau eksklusif. Tetapi Les Bleus menang. Mereka ialah team paling efektif dan kuat di dunia dan sudah melakukan sepanjang 4 tahun.

Penjelajahan mereka kemungkinan usai sama air mata saat mereka melihat Lionel Messi mengusung Piala Dunia pertama dan terakhir kalinya pada Minggu malam, tapi Anda tidak melalui mereka untuk mengakibatkan putus semangat kembali, misalnya dengan pahlawan Maroko di hari Rabu. Menyanggah Messi dari mahkota dunia akan kejam tetapi itu sisi dari permainan. Prancis harus bermain lebih bagus daripada hari Rabu tapi satu kali lagi, mereka masih membedah Maroko, paket surprise dari kompetisi hebat ini — suatu hal yang tidak dapat dilaksanakan oleh Kroasia, Belgia, Spanyol dan Portugal.

Itu ialah permainan yang pelatih Prancis Didier Deschamps dan anak buahnya tidak lakukan suatu hal yang luar biasa tapi juga tidak lakukan kekeliruan. Berikut mantra mereka. Mereka tidak membuat kekeliruan tapi mereka manfaatkan seseorang untuk membikin beberapa kekeliruan.

Untuk laga ke-2 beruntun, sesudah Inggris di perempat final, mereka tidak bermain bagus tapi mereka sukses melaluinya. Mereka tidak ada di bawah penekanan sekitar menantang Inggris, tapi dua laga ini kembali memperlihatkan mengenai team ini. Kekejaman, perasaan pembunuh, kemampuan psikis, ketenangan dalam badai — sebutlah saja apa yang Anda harapkan, orang Prancis memiliki.

Deschamps, yang dalam sepuluh tahun pimpin sekarang sudah capai perempat final (2014), final (2016), menang (2018), 16 besar (2021), dan saat ini jadi finalis minimal (2022) memberitahu beberapa pemainnya selama waktu: “Ini semuanya mengenai menang.”

Dan ia betul. Anda tidak harus bermain secara baik. Anda akan menanggung derita dan Anda harus melalui saat-saat susah… tapi mereka tahu benar bagaimana melakukan.

“Itu tidak prima. Kami terkadang berusaha dan kami capek tapi berikut yang dibutuhkan untuk capai final yang lain,” kata Lloris ke media sesudah kemenangan Prancis pada Rabu.

Deschamps sudah membuat monster. Bahkan juga tanpa Paul Pogba, N’Golo Kante, Karim Benzema, Presnel Kimpembe, Lucas Hernandez dan Christopher Nkunku, Les Bleus tidak menyelimpang dari arah dan sistem mereka. Mereka ialah pembunuh berdarah dingin.

“4 tahun lalu, sesudah menaklukkan Belgia di semi-final, saya menangis di ruangan tukar,” terang Antoine Griezmann selesai laga. “Ini kali, saya telah konsentrasi di hari Minggu, menyembuhkan diri dan menyiapkan diri secara baik untuk final.”

Tim sekarang ini cuma berisi sembilan pemain dari juara tahun 2018 (Lloris, Steve Mandanda, Alphonse Areola, Raphael Varane, Benjamin Pavard, Griezmann, Olivier Giroud, Mbappe, Ousmane Dembele) tapi mereka sudah menyebarkan nilai dan pengalaman mereka ke angkatan baru. Tim 2022 ini sudah pasti serupa dengan 2018: mereka bermain dan bertanding secara sama. Mereka bertahan dan serang secara sama.

“Kami ialah team yang mengetahui bagaimana menanggung derita. Mereka melanjutkan resepnya,” kata bek Jules Kounde selesai laga.

Untuk memenangi Piala Dunia ini dan untuk menulis riwayat sebagai team ke-3 dalam riwayat yang memenangi edisi beruntun (dengan Italia 1934-1938 dan Brasil 1958-1962) mereka harus bermain lebih bagus menantang Argentina dibanding menantang Inggris dan Maroko tapi satu kali lagi, mereka sudah memperlihatkan jika saat mereka perlu tingkatkan dan percepat, mereka dapat. Mbappe ialah contoh prima. Ia tidak berkilau sepanjang 90 menit penuh dan mangkirnya pertahanan kerap mengusik kesetimbangan team Prancis. Tetapi setiap ia sentuh bola, suatu hal terjadi dan ia jadi beresiko kembali. Mbappe ialah factor X, namun pada sudut pandang yang serupa dengan anggota scuad yang lain.

Untuk melintir kalimat populer Gary Lineker mengenai Jerman yang terus menang, sekarang ini kita bisa mengeklaim jika sepak bola ialah permainan simpel di mana 22 pemain memburu bola sepanjang 90 menit dan pada akhirannya, Prancis ada di final.

Leave a Reply